Loading

wait a moment

Berita Indonesia Alasan Bocah SMP Asal Sulawesi Selatan Ingin Menikah

Berita Indonesia Alasan Bocah SMP Asal Sulawesi Selatan Ingin Menikah

Berita Indonesia – Pernikahan memang suatu hal yang dinantikan oleh semua orang. Karena pernikahan hanya dilakukan sekali dalam hidup. Di Indonesia, pernikahan dilakukan dengan batas minimal usia 17 tahun. Dibawah itu, tidak akan mendapatkan izin untuk melangsungkan pernikahan. Namun, baru-baru ini warga masyarakat sedang dihebohkan oleh seorang remaja SMP yang berasal dari Bantaeng, Sulawesi Selatan mengajukan pernikahan ke KUA. Diketahui, keduanya masih anak dibawah umur sehingga belum diperbolehkan menikah. Prianya masih berusia 15 tahun, dan calon istrinya masih berusia 14 tahun. Menurut Undang-undang yang berlaku di Indonesia, pernikahan ini tidak boleh dilakukan.

Kasus ini mungkin memang sudah banyak terjadi. Akan tetapi, sebagian besar dari mereka karena budaya yang masih menggunakan pernikahan dini. Uniknya, pada kasus remaja SMP yang ingin menikah ini dikarenakan takut tidur sendiri dan hidup sebatang kara. Ibunya yang sudah meninggal dan ayahnya bekerja di perantauan membuat si calon pengantin wanita merasa kesepian dan takut dengan kesendiriannya selama ini. Selain itu, ternyata keduanya juga memiliki hubungan asmara. Maka tetap saja pernikahan tersebut didasari oleh rasa cinta.

Pihak keluarga dari calon pengantin wanita memberikan informasi bahwa tidak ada tanda-tanda kehamilan atau yang lainnya. Murni dikarenakan tidak ingin sendiri lagi. Kasus ini banyak menimbulkan pertentangan dari banyak pihak. Terutama dari Perlindungan Anak. Pada usianya, mereka masih diharuskan meneruskan pendidikannya agar bisa menggapai cita-cita yang dimimpikan.

Lalu, bagaimana menurut pandangan para psikologi yang ada di Indonesia? Menurut seorang psikolog bernama Liza Marielly, banyaknya kasus pernikahan dini dikarenakan informasi yang sangat mudah diakses dan pengaruh dari lingkungan sekitar. Apa lagi di zaman yang sudah modern ini, para anak-anak bisa mendapatkan informasi yang tidak semestinya.

Salah satu contohnya adalah maraknya anak usia dini yang sudah mengenal cinta dan kemudian mempengaruhi teman-teman yang lainnya. Semakin cepat seorang anak mengenal pacaran, akan semakin cepat pula ia meminta mleangsungkan pernikahan. Selain itu, lingkungan juga sangatlah berpengaruh. Setiap lingkungan masyarakat memiliki aturan dan kebudayaan masing-masing. Jika seorang anak tinggal di daerah terpencil yang masih menggunakan kebudayaan pernikahan dini, maka besar kemungkinan ia melangsungkan pernikahan pada usia yang tidak semestinya. Kemudian, salah satu faktor penyebab banyak terjadinya pernikahan dini adalah akrena tayangan sinetron. Banyak tayangan sinetron yang menceritakan tentang percintaan. Bahkan hampir semua sinetron mengandung unsur percintaan. Padahal, penontonnya tidak hanya dari kalangan dewasa saja. Anak-anak bisa melihat dengan sangat bebas. Mereka akan tumbuh dewasa sebelum waktunya jika terus menerur menonton sinetron percintaan.

Apa dampak negatif dari pernikahan dini?  Pernikahan pada usia dini bisa menyebabkan kanker rahim bagi wanitanya. Karena rahim belum siap untuk dibuahi. Selain itu, ia akan kehilangan momen yang sangat berharga bersama teman-temannya. Di usianya yang masih sangat belia, ia seharusnya menikmati waktu untuk bermain. Bukan membangun rumah tangga. Pengalaman dalam berinteraksi sosial akan sangat rendah. Padahal, di dunia pekerjaan interaksi sosial antar orang lain itu sangat penting. Pasangan yang menikah pada usia dini juga belum memiliki pemikiran yang dewasa dan matang. Bisa dibilang sangat labil. Kemungkinan untuk bercerai akan sangat besar. Dan jika perceraian itu terjadi ketika pasangan tersebut sudah memiliki buah hati, bisa saja diterlantarkan.  Dampak negatif dari pernikahan dini memang sebagian besar terjadi dalam jangka yang cukup lama.